Membuat Perangkap Nyamuk Berfermentasi Gula yang Optimal
Menggunakan Model Matematika Sederhana dengan Pendekatan STEM
📋 Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, ancaman penyakit tular nyamuk seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi persoalan kesehatan yang serius. Setiap tahun ribuan kasus dilaporkan, terutama karena nyamuk Aedes aegypti berkembang biak sangat cepat di lingkungan tropis. Tantangan ini menjadi lebih kompleks di Provinsi Papua, yang tidak hanya endemis DBD tetapi juga merupakan episentrum malaria nasional. Penyakit malaria sendiri ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina, yang banyak berkembang di wilayah rawa, hutan, dan daerah lembap. Kondisi geografis yang ekstrem, wilayah terpencil, serta keterbatasan akses layanan kesehatan membuat upaya pengendalian nyamuk secara konvensional tidak selalu efektif.
Meskipun DBD dan malaria ditularkan oleh spesies nyamuk berbeda, keduanya memiliki kesamaan dalam mekanisme mencari inang, yaitu sangat bergantung pada deteksi Karbon Dioksida (CO₂) yang dihembuskan manusia. Fakta biologis ini membuka peluang pendekatan inovatif dalam pengendalian nyamuk dengan memanfaatkan CO₂ sebagai umpan.
- Indonesia termasuk negara endemis DBD tertinggi di Asia Tenggara
- Papua menghadapi "beban ganda" — endemis DBD sekaligus episentrum malaria nasional
- Baik nyamuk Aedes aegypti (DBD) maupun Anopheles (malaria) tertarik pada CO₂ yang dihembuskan manusia
- Penggunaan insektisida kimia berlebihan menimbulkan resistensi dan pencemaran lingkungan
- Diperlukan metode pengendalian nyamuk yang ramah lingkungan, murah, dan efektif
Mengapa Perangkap Fermentasi?
Proses fermentasi gula oleh ragi (Saccharomyces cerevisiae) menghasilkan CO₂ yang mampu menarik nyamuk secara alami. Karena baik nyamuk DBD maupun malaria sama-sama menggunakan sensor CO₂ untuk menemukan inangnya, perangkap berbasis fermentasi berpotensi efektif untuk kedua jenis nyamuk tersebut.
Rumusan Masalah
- Bagaimana komposisi optimal gula dan ragi untuk menghasilkan CO₂ maksimum?
- Bagaimana model matematika dapat menjelaskan efektivitas perangkap nyamuk?
- Bagaimana kelayakan ekonomi produksi perangkap nyamuk ramah lingkungan?
🎯 Tujuan Pembelajaran
- Memahami reaksi fermentasi gula dan hubungannya dengan produksi CO₂
- Menganalisis perilaku biologis nyamuk terhadap atraktan CO₂
- Menggunakan model matematika untuk menentukan komposisi optimal
- Mendesain prototipe perangkap nyamuk dengan pendekatan engineering
- Menganalisis potensi ekonomi produk ramah lingkungan
💡 Solusi yang Ditawarkan
Kami mengusulkan perangkap nyamuk berbasis fermentasi gula yang memanfaatkan prinsip-prinsip STEM secara terpadu.
Prinsip Kerja
- Fermentasi: Campuran gula + ragi + air hangat menghasilkan CO₂ secara kontinu
- Atraksi: CO₂ menarik nyamuk menuju perangkap (meniru pernapasan manusia)
- Perangkap: Desain botol terbalik mencegah nyamuk keluar setelah masuk
- Optimasi: Model matematika menentukan rasio bahan terbaik
Komponen Alat
| Bahan | Jumlah | Fungsi |
|---|---|---|
| Botol plastik bekas 0.6-1.5L | 1 buah | Wadah perangkap |
| Gula pasir | ... gram | Substrat fermentasi |
| Ragi roti (yeast) | ... gram | Mikroorganisme fermentasi |
| Air hangat (± ...°C) | ... ml | Media larutan |
| Kertas/kain hitam | secukupnya | Penarik visual nyamuk |
Desain Perangkap & Perilaku Nyamuk
Keunggulan Solusi
🧬 Biologi: Siklus Hidup & Perilaku Nyamuk
Siklus Hidup Aedes aegypti
Struktur anatomi nyamuk dan siklus hidup metamorfosis sempurna (Telur → Larva → Pupa → Dewasa)
Perilaku Pencarian Inang
Nyamuk Aedes aegypti menggunakan 3 mekanisme sensorik untuk menemukan inang:
- Deteksi CO₂ (jarak jauh: 10-50 meter) — Organ maxillary palp mendeteksi gradien CO₂
- Bau tubuh (jarak menengah: 1-10 meter) — Asam laktat, amonia, asam lemak
- Panas & visual (jarak dekat: <1 meter) — Radiasi inframerah & warna gelap
Mengapa CO₂ Efektif sebagai senyawa kimia yg mempunyai daya tarik terhadap serangga (Atraktan)?
| Aspek | Penjelasan |
|---|---|
| Jangkauan | CO₂ terdeteksi nyamuk hingga radius 50 meter |
| Spesifisitas | Nyamuk betina (penggigit) paling sensitif terhadap CO₂ |
| Mekanisme | Reseptor gustatori Gr1, Gr2, Gr3 pada antena nyamuk |
| Respons | CO₂ memicu perilaku terbang zig-zag mengikuti gradien konsentrasi |
Reseptor CO₂ pada maxillary palp nyamuk: molekul CO₂ dideteksi oleh capitate peg sensilla yang mengandung neuron reseptor khusus (cpA)
Perbandingan Karakteristik Nyamuk
Perangkap fermentasi CO₂ menargetkan dua vektor utama penyakit di Indonesia. Berikut perbandingan karakteristik keduanya:
Aedes aegypti — vektor DBD
Anopheles — vektor Malaria
| Aspek | Aedes aegypti | Anopheles |
|---|---|---|
| Penyakit yang ditularkan | DBD, Zika, Chikungunya | Malaria |
| Waktu aktif menggigit | Pagi (08.00–10.00) & sore (15.00–17.00) | Malam hari (18.00–05.00) |
| Preferensi cahaya | Aktif siang (diurnal) | Aktif malam (nokturnal) |
| Habitat bertelur | Air bersih tergenang (bak mandi, drum, vas) | Air alami: rawa, sawah, genangan tanah |
| Lingkungan favorit | Perkotaan / pemukiman | Pedesaan, hutan, rawa |
| Jarak terbang | ±100 meter | Bisa >1 km (tergantung spesies) |
| Kebutuhan darah | Betina butuh protein darah untuk telur | Sama: betina butuh darah |
| Bentuk telur | Satu-satu di dinding air | Bergerombol di permukaan air |
⚗️ Kimia: Reaksi Fermentasi
Fermentasi alkohol adalah proses metabolisme anaerobik di mana ragi (Saccharomyces cerevisiae) mengubah glukosa menjadi etanol dan karbon dioksida.
Reaksi Utama
Jika Menggunakan Gula Pasir (Sukrosa)
Gula dapur = sukrosa (\(\ce{C12H22O11}\)) tidak langsung difermentasi. Ragi akan memecahnya dulu menjadi glukosa + fruktosa.
Masing-masing gula sederhana difermentasi:
Karena ada 2 molekul gula sederhana dari setiap molekul sukrosa, total CO₂ yang dihasilkan lebih banyak.
Stoikiometri: Dari Gula Pasir hingga CO₂
Bahan awal perangkap kita: 50 gram gula pasir (sukrosa, \(\ce{C12H22O11}\), \(M_r = 342\)).
Gula pasir bukan glukosa murni — ragi harus memecahnya dulu. Mari telusuri perjalanan dari gula pasir hingga menjadi CO₂ langkah demi langkah.
Setiap 1 mol sukrosa dipecah menjadi 2 mol gula sederhana (glukosa + fruktosa, keduanya \(M_r = 180\)):
Setiap 1 mol glukosa menghasilkan 2 mol CO₂:
Ringkasan Stoikiometri (dari 50g Gula Pasir)
| Tahap | Zat | \(M_r\) | Mol | Massa / Volume |
|---|---|---|---|---|
| Awal | Sukrosa (\(\ce{C12H22O11}\)) | 342 | 0,146 | 50 gram |
| Hidrolisis | Glukosa (\(\ce{C6H12O6}\)) | 180 | 0,292 | 52,6 gram |
| Fermentasi | Etanol (\(\ce{C2H5OH}\)) | 46 | 0,584 | 26,9 gram |
| Fermentasi | \(\ce{CO2}\) | 44 | 0,584 | 13,08 L (STP) |
Setara dengan ± 9 botol air mineral 1,5L atau sekitar 1 balon besar yang ditiup penuh. Volume sebesar ini cukup untuk menarik nyamuk dalam radius beberapa meter selama berjam-jam.
Mengapa Reaksi Ini Terjadi Secara Alami?
Konsep Entropi (Ketidakteraturan):
Pada fermentasi, zat cair (larutan glukosa) berubah menjadi gas (CO₂). Gas memiliki molekul yang lebih tersebar dan tidak teratur dibanding cairan. Dalam kimia, peningkatan ketidakteraturan ini disebut peningkatan entropi.
Reaksi yang meningkatkan entropi cenderung terjadi secara spontan — artinya reaksi berjalan sendiri tanpa perlu energi tambahan terus-menerus.
Faktor yang Mempengaruhi Laju Fermentasi
- Suhu: Optimal 30-35°C (enzim zimase aktif)
- Konsentrasi gula: Terlalu tinggi → plasmolisis sel ragi
- pH: Optimal pH 4-5 (sedikit asam)
- Rasio ragi/gula: Mempengaruhi kecepatan konversi
| Faktor | Jika Terlalu Tinggi | Dampak pada Perangkap |
|---|---|---|
| Suhu | > 40°C | Ragi mati, produksi CO₂ berhenti |
| Konsentrasi Gula | > 25% | Osmosis/plasmolisis — sel ragi rusak |
| Jumlah Ragi | Berlebihan | Substrat (gula) cepat habis, perangkap tidak tahan lama |
📐 Matematika: Model Optimasi
1. Model Eksponensial: Dari Reaksi Kimia ke Matematika
Dari pengamatan ke model:
Fermentasi terjadi karena ragi mengonsumsi gula sebagai sumber energi. Semakin banyak gula tersedia, semakin cepat proses fermentasi berlangsung. Sebaliknya, ketika gula berkurang, laju fermentasi juga menurun.
Jika kita mengamati fermentasi secara eksperimen, polanya selalu sama: di awal gelembung CO₂ banyak dan cepat, lalu makin lama makin jarang. Ini karena gula yang tersedia terus berkurang. Artinya, laju berkurangnya gula sebanding dengan jumlah gula yang masih tersisa.
Langkah 1 — Dari Observasi ke Persamaan Diferensial
Hubungan proporsional diubah menjadi persamaan dengan konstanta \(k\):
Karena gula berkurang (bukan bertambah), kita beri tanda negatif:
Variabel yang Digunakan
| Simbol | Arti | Satuan |
|---|---|---|
| \(S(t)\) | Jumlah gula pada waktu \(t\) | gram atau mol |
| \(S_0\) | Jumlah gula awal (saat \(t = 0\)) | gram atau mol |
| \(\dfrac{dS}{dt}\) | Laju perubahan gula — "seberapa cepat gula berkurang tiap jam" | gram/jam atau mol/jam |
| \(k\) | Konstanta laju fermentasi | 1/jam |
| \(t\) | Waktu fermentasi | jam |
| Tanda \(-\) | Menunjukkan gula berkurang, bukan bertambah | |
Nilai \(k\) menentukan seberapa cepat fermentasi berlangsung. Nilainya dipengaruhi oleh jumlah ragi, suhu, dan pH.
- \(k\) besar → fermentasi cepat (gula cepat habis, CO₂ deras di awal)
- \(k\) kecil → fermentasi lambat (gula habis perlahan, CO₂ stabil lebih lama)
Langkah 2 — Penyelesaian Persamaan Diferensial
Langkah 3 — Dari Gula Terpakai ke CO₂
Gula yang sudah terfermentasi pada waktu t:
Dari stoikiometri reaksi: 1 mol glukosa menghasilkan 2 mol CO₂. Maka:
Langkah 4 — CO₂ Maksimum
Ketika waktu sangat lama (t → ∞), semua gula habis terfermentasi:
Langkah 5 — Laju Produksi CO₂
Seberapa cepat CO₂ dihasilkan pada waktu tertentu? Turunkan \(\ce{CO2}(t)\) terhadap waktu:
Karena \(S(t) = S_0 e^{-kt}\), maka:
Alur Ringkas: Kimia → Matematika
- Reaksi kimia: \(\ce{C6H12O6 -> 2CO2 + 2C2H5OH}\)
- Stoikiometri: 1 mol glukosa → 2 mol CO₂
- Model laju: \(\frac{dS}{dt} = -kS\)
- Solusi eksponensial: \(S(t) = S_0 e^{-kt}\)
- CO₂ akumulasi: \(\ce{CO2}(t) = 2S_0(1 - e^{-kt})\)
- Laju CO₂: \(r_{\ce{CO2}}(t) = 2kS_0 e^{-kt}\)
Simulasi Interaktif: Visualisasi \(S(t)\) dan \(\ce{CO2}(t)\)
Gerakkan slider untuk melihat bagaimana nilai \(S_0\) (gula awal) dan \(k\) (konstanta laju) mempengaruhi bentuk kurva.
- Gula tinggal setengah pada: —
- CO₂ maksimum: —
- Laju CO₂ awal: —
- Geser \(k\) ke kanan (besar) — perhatikan gula habis lebih cepat, tapi CO₂ juga cepat berhenti naik
- Geser \(k\) ke kiri (kecil) — gula habis perlahan, CO₂ naik lebih lambat tapi lebih lama
- Tambah \(S_0\) — total CO₂ akhir meningkat (garis biru naik lebih tinggi)
- Gula (\(S_0\)) menentukan total CO₂ yang bisa dihasilkan — makin banyak gula, makin banyak CO₂
- Ragi mempengaruhi nilai \(k\) (kecepatan reaksi) — makin banyak ragi, makin cepat CO₂ keluar, tapi gula juga lebih cepat habis
- Model eksponensial memprediksi berapa lama larutan perangkap masih efektif menghasilkan CO₂
- Dengan mengatur \(S_0\) dan \(k\), kita bisa mengoptimalkan agar perangkap menghasilkan CO₂ yang cukup selama waktu yang diinginkan
2. Fungsi Efektivitas Gaussian
Model eksponensial di atas menunjukkan berapa banyak CO₂ yang dihasilkan dari gula. Tapi apakah semua CO₂ itu efektif menarik nyamuk? Tidak — efektivitasnya bergantung pada kondisi: suhu, rasio ragi, dan konsentrasi larutan.
Setiap faktor memiliki titik optimal. Terlalu rendah atau terlalu tinggi, efektivitas menurun. Pola ini membentuk kurva lonceng (Gaussian):
- Suhu: 32°C (puncak aktivitas enzim zimase)
- Rasio ragi/gula: 10% (keseimbangan substrat-enzim)
- Konsentrasi larutan: 20% (cukup substrat tanpa plasmolisis)
3. Model Produksi CO₂ Sepanjang Waktu
Model eksponensial (bagian 1) menghitung total CO₂, sementara Gaussian (bagian 2) menentukan efektivitas kondisi. Sekarang kita gabungkan keduanya dengan memperhitungkan faktor waktu — karena produksi CO₂ per jam tidak konstan. Ada 3 fase yang terjadi secara alami:
- Fase Adaptasi (0–4 jam): Ragi "bangun" dan mulai bekerja — produksi CO₂ masih rendah
- Fase Puncak (4–12 jam): Ragi aktif penuh, gula masih banyak — CO₂ maksimal
- Fase Penurunan (>12 jam): Gula mulai habis — produksi melambat
📐 4. Optimasi Matematis: Mencari Komposisi Terbaik
Bagian 1–3 di atas adalah model deskriptif — menjelaskan bagaimana fermentasi bekerja. Sekarang kita gunakan model tersebut untuk benar-benar mencari komposisi terbaik secara matematis.
Mendefinisikan Fungsi Tujuan
Pertanyaan optimasi: Berapa komposisi gula, ragi, suhu, dan air agar perangkap menghasilkan CO₂ efektif yang maksimal?
Total CO₂ efektif sebanding dengan volume CO₂ (dari stoikiometri) dikalikan efektivitas kondisi:
Dengan:
- \(V_{\ce{CO2}}(g) = \frac{g}{180} \times 2 \times 22{,}4\) liter — volume CO₂ dari stoikiometri, bergantung pada jumlah gula \(g\)
- \(E = f(T) \times f(R) \times f(C)\) — efektivitas, bergantung pada suhu, rasio ragi, dan konsentrasi
A. Optimasi Suhu (\(dE/dT = 0\))
Karena \(V_{\ce{CO2}}\) tidak bergantung pada suhu, kita cukup memaksimalkan \(f(T)\):
Karena \(f(T) > 0\) selalu, maka syaratnya:
B. Optimasi Jumlah Gula — Trade-off Nyata
Di sinilah optimasi menjadi menarik. Jumlah gula (g) mempengaruhi dua hal sekaligus:
- Lebih banyak gula → lebih banyak CO₂ (\(V_{\ce{CO2}}\) naik) — ini bagus
- Tapi konsentrasi C naik → \(f(C)\) turun jika \(C > 20\%\) — ini buruk
Ada titik keseimbangan di mana tambahan gula sudah tidak sebanding dengan penurunan efektivitas. Titik inilah yang kita cari!
Untuk air tetap (w ml), fungsi tujuan terhadap gula:
Dengan \(\frac{dC}{dg} = \frac{100w}{(w + g)^2}\). Bagi kedua ruas dengan \(f_C > 0\):
Penyelesaian Numerik (w = 200 ml)
Kita hitung J(g) untuk berbagai takaran gula:
| Gula (g) | C (%) | \(f_C\) | \(J = g \cdot f_C\) | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| 30 | 13.0 | 0.685 | 20.6 | Gula terlalu sedikit |
| 40 | 16.7 | 0.917 | 36.7 | |
| 50 | 20.0 | 1.000 | 50.0 | \(f_C\) maksimum, tapi bukan \(J\) maksimum |
| 55 | 21.6 | 0.981 | 54.0 | |
| 62 | 23.6 | 0.900 | 55.8 | \(J\) maksimum |
| 70 | 25.9 | 0.760 | 53.2 | |
| 80 | 28.6 | 0.563 | 45.1 | |
| 100 | 33.3 | 0.249 | 24.9 | Konsentrasi terlalu tinggi |
Gula optimal \(g^* \approx 62\) gram (bukan 50 gram!). Pada titik ini, konsentrasi \(C = 23{,}6\%\) — sedikit di atas titik optimal \(f_C\) (20%), karena keuntungan dari lebih banyak CO₂ masih lebih besar dari penurunan efektivitas.
Ini menunjukkan bahwa titik optimal keseluruhan berbeda dari titik optimal masing-masing faktor — itulah inti dari optimasi multivariabel.
C. Optimasi Ragi
Untuk rasio ragi/gula optimal R* = 10%, dengan g* = 62 gram:
D. Resep Optimal Perangkap Nyamuk
| Parameter | Nilai Optimal | Metode |
|---|---|---|
| Suhu | 32°C | \(dE/dT = 0\), \(d^2E/dT^2 < 0\) |
| Gula | 62 gram | \(dJ/dg = 0\) (numerik) |
| Ragi | 6,2 gram | \(R^* = 10\% \times g^*\) |
| Air | 200 ml | Parameter tetap |
| Konsentrasi | 23,6% | Hasil dari \(g^*\) dan \(w\) |
📊 Grafik Interaktif: Pengaruh Komposisi
Saatnya menguji semua model di atas secara visual! Gerakkan slider untuk melihat bagaimana perubahan komposisi mempengaruhi efektivitas \(E\), fungsi tujuan \(J\), dan kurva produksi CO₂.
Kurva Produksi CO₂ Efektif (24 Jam)
Produksi CO₂ per jam = \(J \times L(t) \times D(t)\), menggabungkan efektivitas Gaussian dengan model waktu (fase lag + penurunan).
- Kinetika Michaelis-Menten — L. Michaelis & M. Menten (1913), model standar laju reaksi enzimatis
- Distribusi Gaussian — C.F. Gauss, digunakan untuk memodelkan respons biologis terhadap variabel lingkungan
- Peluruhan eksponensial (orde pertama) — prinsip dasar kinetika kimia untuk reaksi yang lajunya sebanding dengan konsentrasi reaktan
- Model pertumbuhan logistik — P.F. Verhulst (1838), digunakan untuk fase lag pertumbuhan mikroorganisme
💰 Ekonomi: Potensi Usaha Perangkap Nyamuk Ramah Lingkungan
Analisis Biaya Produksi
| Komponen | Biaya/Unit | Keterangan |
|---|---|---|
| Bahan baku (gula, ragi) | Rp 2.000 | Gula 50g + Ragi 5g |
| Botol bekas + pelapis | Rp 1.000 | Daur ulang |
| Kemasan & label | Rp 2.000 | Branding produk |
| Tenaga kerja | Rp 3.000 | Perakitan |
| Overhead | Rp 2.000 | Transport, listrik |
| Total HPP | Rp 10.000 |
Simulator Ekonomi
Proyeksi Pendapatan 12 Bulan
- Target: rumah tangga, sekolah, puskesmas, desa wisata
- Keunggulan kompetitif: ramah lingkungan, tanpa bahan kimia berbahaya
- Bisa dikembangkan sebagai program kewirausahaan siswa
- Potensi ekspor ke daerah endemis malaria & DBD
🔬 Proses Saintifik & Enjinering (Model 5E)
1. Eksitasi (Engagement)
Aktivitas:
- Pertanyaan Pemantik: "Mengapa nyamuk selalu menemukan kita meski dalam gelap?"
- Video Stimulus: Tayangan tentang dampak DBD di Indonesia dan cara nyamuk mendeteksi manusia
- Diskusi: Siswa berbagi pengalaman tentang cara pengendalian nyamuk di rumah masing-masing
- Demonstrasi: Guru menunjukkan botol berisi larutan gula+ragi yang menghasilkan gelembung CO₂
Pertanyaan Pengarah:
- Apa yang membuat nyamuk tertarik mendekati manusia?
- Gas apa yang kita keluarkan saat bernapas?
- Bisakah kita "meniru" napas manusia untuk menjebak nyamuk?
2. Eksplorasi (Exploration)
Aktivitas:
- Studi Literatur: Siswa membaca materi tentang fermentasi, siklus hidup nyamuk, dan reaksi kimia
- Investigasi Kelompok:
- Kelompok A: Mempelajari reaksi fermentasi & stoikiometri
- Kelompok B: Mempelajari biologi & perilaku nyamuk
- Kelompok C: Mempelajari model matematika optimasi
- Kelompok D: Melakukan survei harga bahan & potensi pasar
- Penggunaan Simulator: Siswa mencoba simulator interaktif untuk memahami pengaruh variabel
3. Eksperimen (Experiment)
Prosedur Eksperimen:
| Variabel | Perlakuan 1 | Perlakuan 2 | Perlakuan 3 | Kontrol |
|---|---|---|---|---|
| Gula (g) | 25 | 50 | 100 | 0 |
| Ragi (g) | 5 | 5 | 5 | 5 |
| Air (ml) | 200 | 200 | 200 | 200 |
Langkah Percobaan:
- Potong botol plastik 1.5L menjadi 2 bagian (⅓ atas, ⅔ bawah)
- Larutkan gula dalam air hangat (±35°C) di bagian bawah botol
- Tambahkan ragi, aduk perlahan
- Balik bagian atas botol sebagai corong, masukkan ke bagian bawah
- Lapisi sisi luar dengan kertas/kain hitam
- Letakkan perangkap di lokasi uji selama 24 jam
- Hitung jumlah nyamuk yang terperangkap
- Catat data pada tabel pengamatan
Lembar Pengamatan:
| Jam ke- | Gelembung CO₂ | Nyamuk Tertangkap | Suhu Larutan | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| 0 | - | - | - | - |
| 2 | ||||
| 6 | ||||
| 12 | ||||
| 24 |
4. Eksplanasi (Explanation)
Kegiatan Analisis:
- Analisis Data: Siswa membuat grafik dari data eksperimen menggunakan simulator
- Diskusi Kelas:
- Komposisi mana yang menghasilkan CO₂ paling banyak?
- Apakah hasil eksperimen sesuai dengan prediksi model matematika?
- Mengapa komposisi tertentu lebih efektif?
- Bagaimana hubungan stoikiometri dengan hasil nyata?
- Koneksi STEM: Siswa menjelaskan bagaimana setiap disiplin ilmu berperan:
- Kimia → Reaksi fermentasi & stoikiometri
- Biologi → Perilaku nyamuk terhadap CO₂
- Matematika → Model optimasi & prediksi
- Ekonomi → Kelayakan produksi massal
Pertanyaan Refleksi:
- Jelaskan mengapa suhu mempengaruhi laju fermentasi!
- Hitung mol CO₂ dari eksperimenmu dan bandingkan dengan teori!
- Mengapa perubahan dari cairan ke gas (peningkatan entropi) membuat reaksi fermentasi berlangsung spontan?
5. Elaborasi (Elaboration)
Proyek Pengembangan:
- Desain Iterasi: Perbaiki desain perangkap berdasarkan data eksperimen
- Optimasi komposisi bahan berdasarkan model matematika
- Modifikasi bentuk perangkap untuk efektivitas maksimal
- Penambahan atraktan visual (warna hitam, LED UV)
- Business Plan: Siswa menyusun rencana bisnis sederhana
- Analisis SWOT produk
- Strategi pemasaran ramah lingkungan
- Perhitungan BEP dan proyeksi keuntungan
- Presentasi: Setiap kelompok mempresentasikan perangkap terbaiknya
Tantangan Engineering:
6. Evaluasi (Evaluation)
A. Rubrik Penilaian Proyek
| Aspek | Bobot | Indikator |
|---|---|---|
| Pemahaman Konsep STEM | 25% | Mampu menjelaskan keterkaitan 4 disiplin ilmu |
| Keterampilan Eksperimen | 25% | Prosedur benar, data akurat, analisis tepat |
| Model Matematika | 20% | Mampu menggunakan rumus dan menginterpretasi grafik |
| Desain Engineering | 15% | Perangkap fungsional, efektif, estetis |
| Analisis Ekonomi | 15% | Perhitungan HPP, BEP, dan proyeksi realistis |
B. Soal Evaluasi
1. Reaksi fermentasi glukosa menghasilkan...
2. Nyamuk mendeteksi CO₂ menggunakan organ...
3. Jika ΔS > 0 pada reaksi fermentasi, ini berarti...
4. Dari 50g glukosa (Mr=180), mol CO₂ yang dihasilkan adalah...
5. Jika HPP = Rp10.000 dan harga jual Rp25.000, berapa margin keuntungan?
C. Refleksi Diri
- Apa yang paling menarik dari proyek ini?
- Kesulitan apa yang kamu hadapi dan bagaimana mengatasinya?
- Bagaimana kamu bisa menerapkan prinsip STEM dalam kehidupan sehari-hari?
🧪 Simulator Perangkap Nyamuk Fermentasi
Atur parameter di bawah untuk mensimulasikan efektivitas perangkap nyamuk.
Kurva Produksi CO₂ (24 Jam)
Peluruhan Substrat vs Akumulasi CO₂
Grafik ini menunjukkan bagaimana gula berkurang (peluruhan eksponensial) sementara total CO₂ bertambah seiring waktu.
📝 Penutup
Kesimpulan
- Perangkap nyamuk berbasis fermentasi gula merupakan solusi ramah lingkungan yang efektif memanfaatkan produksi CO₂ dari reaksi fermentasi glukosa oleh ragi.
- Model matematika (fungsi Gaussian dan kinetika Michaelis-Menten) dapat digunakan untuk menentukan komposisi optimal: gula 50g, ragi 5g, air 200ml pada suhu 30-35°C.
- Pendekatan STEM memungkinkan siswa memahami keterkaitan Kimia (reaksi fermentasi, entropi), Biologi (perilaku nyamuk), Matematika (model eksponensial & optimasi Gaussian), dan Ekonomi (analisis kelayakan usaha).
- Proses 5E memfasilitasi pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan bermakna melalui pengalaman langsung.
Manfaat Pembelajaran
| Aspek | Kompetensi yang Dicapai |
|---|---|
| Kognitif | Pemahaman konsep fermentasi, stoikiometri, entropi, model matematika eksponensial |
| Psikomotorik | Keterampilan eksperimen, desain engineering, penggunaan simulator |
| Afektif | Kepedulian lingkungan, kolaborasi, berpikir kritis dan kreatif |
| Literasi | Literasi sains, numerasi, digital, dan finansial |
Saran Pengembangan
- Uji coba perangkap di berbagai kondisi lingkungan (indoor vs outdoor)
- Tambahkan atraktan lain (asam laktat, octenol) untuk meningkatkan efektivitas
- Kembangkan aplikasi mobile untuk monitoring dan pencatatan data
- Integrasikan dengan program 3M Plus dan jumantik sekolah
- Lakukan kerjasama dengan Puskesmas untuk validasi efektivitas di lapangan
"Sains bukan hanya tentang mengetahui, tapi tentang bertindak untuk kebaikan."